,



Dukungan OJK untuk Kurangi Dampak Tekanan Pasar Keuangan Global
Kontributor : luki, 03 Oktober 2018

Jakarta -

Berlanjutnya isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta normalisasi kebijakan moneter AS dan Eropa membuat kondisi pasar keuangan global masih mengalami ketidakpastian. Bahkan ketidakpastian ini ikut meningkatkan tekanan di pasar keuangan emerging markets, khususnya di negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan eksternal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung penuh upaya pemerintah dalam mengurangi dampak tekanan pasar keuangan global terhadap perekonomian domestik. Upaya tersebut antara lain penjadwalan ulang proyek infrastruktur non-strategis dengan konten impor tinggi, penggunaan biosolar (B20), dan peningkatan tarif PPh impor produk konsumsi.

Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga di tengah kondisi likuiditas pasar keuangan Indonesia yang masih mengalami volatilitas akibat berlanjutnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Pasar modal domestik per September 2018 terpantau masih relatif stabil di tengah dinamika pasar keuangan global. Per 21 September 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tipis sebesar 1,0% secara month to date (mtd) dengan investor non-residen yang mencatatkan net sell sebesar Rp 2,5 triliun. Secara ytd, IHSG terkoreksi sebesar 6,3% dengan investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp 52,7 triliun.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), yield tenor jangka pendek, menengah, dan panjang kembali meningkat masing-masing sebesar 82 bps, 22 bps, dan 42 bps mtd. Peningkatan yield ini terjadi seiring dengan dinamika eksternal yang masih meningkat. Hingga 21 September 2018, investor nonresiden masih mencatat net buy sebesar Rp 4,4 triliun.

Sementara itu, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Agustus 2018 secara umum masih bergerak positif. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan masing-masing tumbuh sebesar 12,12% yoy dan 5,82% yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 11,34% dan 5,53%.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,88% yoy. Premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi per Agustus 2018 masing-masing mencatat sebesar Rp 114,8 triliun dan Rp 49,3 triliun.

Sementara di pasar modal, pada periode Januari sampai 21 September 2018, penghimpunan dana oleh korporasi telah mencapai Rp 130 triliun dengan emiten baru sebesar 39 perusahaan dan total dana kelolaan investasi sebesar Rp 740,69 triliun. Jumlah tersebut meningkat 7,58% dibandingkan akhir tahun 2017.

Di tengah berlanjutnya volatilitas di pasar keuangan domestik, profil risiko lembaga jasa keuangan masih terjaga pada level yang manageable. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankantercatat sebesar 2,74%. Sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,11%.

Selanjutnya, permodalan lembaga jasa keuangan tercatat pada level yang cukup tinggi. Capital Adequacy Ratio perbankan per Agustus 2018 tercatat sebesar 23,01%. Sedangkan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 309% dan 434%.

Dinamika di pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut seiring masih tingginya downside risk di lingkup global. OJK memandang kemampuan sektor jasa keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masih terbuka, namun tetap dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian di antaranya perkembangan suku bunga dan likuiditas global, gejolak di pasar keuangan emerging markets, dan tensi perang dagang.

OJK akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait.

Sumber:detik.com, 3 Oktober 2018

Write A Comment